Ramadhan momentum mengapai Cinta, Pengampunan,ridha allah dalam bingkai Spirit perjuangan umat.

Ramadhan momentum mengapai Cinta, Pengampunan,ridha allah dalam bingkai Spirit perjuangan umat.

PENULIS : BAMBANG PRATAMA PUTRA.S,sos 

https://www.tiktok.com/@ini_bengbeng12?_r=1&_t=ZS-94eeiDsJR69

https://www.facebook.com/putra.d.pratama.771

https://www.instagram.com/ini_beng_beng?igsh=MWlnYzV4eGthZDdhcA==






DETAKJAMBI.COM - TANJAB BARAT. RAMADHAN adalah bulan suci bisa juga kita sebut sebagai bulan momentum meningkatkan spirit perjuangan umat dalam mengapai ridha allah SAW, Bulan yang dipenuhi dengan keberkahan, rahmat, dan cinta dari Allah Swt. Setiap tahun, umat muslim menyambut datangnya bulan suci ini dengan penuh harapan dan semangat.

Ramadan adalah bulan yang penuh cinta yang tidak hanya terbatas pada aspek spiritual, tetapi juga pada kemanusiaan.

Kehadiran Ramadan merupakan sudah suatu ketentuan petunjuk dari Allah SWT yang termaktub dalam Al Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad SAW. Kehadiran Ramadhan sebagai bulan petunjuk dan peningkatan keimanan dan ketaqwaan bagi manusia yang beriman kepada Allah dan Rosulnya. Firman Allah SWT dalam surat Al Baqoroh ayat 183:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(Al Baqoroh ayat 183)

Kemudian dalam surat Al Baqoroh Ayat 185 Allah menjelaskan dalam FirmanNya:


Artinya : Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (Al Baqoroh Ayat 185.


Perintah berpuasa diturunkan pada bulan Sya‘ban tahun kedua Hijri, ketika Nabi Muhammad saw mulai membangun pemerintahan yang berwibawa dan mengatur masyarakat baru, maka dapat dirasakan, bahwa puasa itu sangat penting artinya dalam membentuk manusia yang dapat menerima dan melaksanakan tugas-tugas besar dan suci. Orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan akhirat.


Kehadiran Ramadan memberikan refleksi perjalanan sebelas bulan sebelumnya yang kadang sebagai manusia manusia lupa dan alpha dikarenakan kesibukan dunia yang tak mengenal waktu Ramadan Kembali menjadi bingkai bulan Pendidikan bagi umat Islam untuk Kembali belajar untuk taat beribadah kepada Allah. Karena Ramadan sebagi bulan petunjuk bagi kaum musliman agar dia mau bersyukur.

Kehadiran Ramadan bukan sekadar pergeseran waktu makan, bukan pula ritual menahan haus yg melelahkan. Ia adalah sebuah surat cinta dari Sang Khalik yg ditulis dalam lima huruf sakral: Ra, Mim, Dhad, Alif, dan Nun. Setiap hurufnya merupakan anak tangga menuju singgasana kedekatan dengan-Nya. Mari kaji satu per satu, bukan dengan logika semata, melainkan dengan rasa yg paling dalam.


Pertama Huruf Ra: Ridhw null h (Ridha Allah) Sesuai firman-Nya: "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 8)

Kedua. Huruf Mim : Mahabbatullh (Kasih Sayang Allah) Sesuai Hadist Qudsi: "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku."

Ketiga. Huruf Dhad : Dhamnullh (Jaminan Allah) Sesuai janji-Nya: "Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari)

Kelima. Huruf Nun : Nurullh (Cahaya Allah) Sesuai firman-Nya: "Telah Kami turunkan kepadamu cahaya yg terang benderang." (QS. An-Nisa': 174)

Terakhir, Ramadhan ditutup dengan huruf Nun, yakni Nur atau Cahaya Allah. Dunia seringkali gelap dan menyesatkan, namun Ramadhan hadir membawa cahaya Al-Qur'an yang menembus ke relung batin.

Cahaya keimanan dan ketaqwaan bagi seorang mukmin Ketika telah berhasil menunaikan perintah dan kewajibannya dengan penuh rasa cinta dan Syukur. Jiwa seorang mukmin yang lulus dari madrasah Ramadhan akan keluar dengan wajah yang bersinar dan hati yg jernih, menjadi pelita bagi dirinya sendiri dan lentera bagi orang-orang di sekitarnya.
Setiap momen di bulan suci ini akan dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, baik lewat ibadah, membaca Al-Qur’an, memberi amal, maupun melakukan kebaikan lainnya. Cinta kepada Tuhan juga tampak melalui ketaatan tanpa syarat, bukan hanya ritual yang dilakukan karena kebiasaan semata. 

Apabila seseorang mengatakan mencintai Tuhan, namun bulan Ramadan tidak membuatnya lebih taat, maka ketulusan cintanya patut dipertanyakan. Ramadan adalah refleksi dari keimanan, menunjukkan seberapa dalam rasa cinta seorang hamba kepada Tuhannya.

Selain itu, bulan Ramadan juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan rasa kasih kepada sesama. Seorang beriman yang benar-benar memahami makna Ramadan akan lebih peka terhadap kesengsaraan orang lain. Ia akan lebih sering berbagi, membantu mereka yang membutuhkan, dan memperkuat hubungan sosial.

Islam mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus ditunjukkan dengan kepedulian kepada sesama manusia. Puasa bukan hanya melatih kesabaran, tetapi juga mengembangkan rasa empati dan solidaritas. Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan hati dari penyakit kebencian, iri hati, dan kedengkian, serta menggantinya dengan cinta, kasih sayang, dan pengampunan.

Namun, tantangan paling signifikan adalah mempertahankan semangat Ramadan setelah bulan ini berakhir. Banyak individu yang sangat bersemangat melakukan ibadah selama Ramadan, tetapi kembali ke kebiasaan lama mereka setelah Idulfitri.

Ini menunjukkan bahwa praktik ibadah yang dilakukan selama Ramadan belum sepenuhnya tertanam dalam hati dan jiwa. Seharusnya, Ramadan berfungsi sebagai titik awal untuk perubahan yang berkelanjutan, bukan sekadar momen sementara yang mudah dilupakan. Ramadan merupakan pengalaman spiritual yang mendidik jiwa, dan kelulusan dari pengalaman ini harus tercermin dalam perubahan perilaku setelahnya.

Bagi mereka yang belum memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya, masih ada peluang untuk memperbaikinya. Ramadan adalah bulan penuh rahmat, di mana satu malamnya lebih bernilai daripada seribu bulan. Lailatul Qadar adalah pemberian luar biasa dari Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW., di mana amal di malam itu setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun.

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Setiap detik di bulan Ramadan merupakan kesempatan untuk mengumpulkan pahala dan menghapus dosa.

Peluang untuk meraih kasih sayang dan pengampunan dari Allah di bulan Ramadan harus dimanfaatkan sebaiknya. Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa menghasilkan perubahan signifikan dalam hidup kita.

Jika Ramadan tidak membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka kita telah gagal memanfaatkan anugerah besar ini. Cinta kepada Allah bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi harus ditunjukkan dengan kesungguhan dalam melaksanakan ibadah. Pengampunan Allah bukan hanya sekadar janji, tetapi harus diperoleh melalui tobat yang tulus.

Ramadan adalah karunia istimewa yang diberikan Allah kepada umat Islam. Namun, hanya mereka yang memiliki kesadaran spiritual yang tinggi yang bisa memperolah manfaat dan ridha dari bulan ini.

berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Bayinah ayat 8, disebutkan bahwa ridha itu terbagi atas dua macam, yakni ridha Allah kepada hamba-Nya, dan ridha hamba kepada Allah. "Ridha yang pertama, ridha Allah kepada hamba-Nya, yakni ridha Allah yang berupa tambahan kenikmatan, banyak pahala, dan derajat kemuliaan,

Dalam konteks Ramadhan, kata dia, ketika usai Shalat Tarawih kita mengharapkan ridha Allah yang tercermin dalam doa kamilin, Ya Allah, jadikanlah kami golongan yang sempurna dengan iman, yang mampu menunaikan berbagai kewajiban, memelihara shalat, melaksanakan zakat dan hanya untuk mencari ridha di sisi Engkau. "Berdasarkan doa kamilin ini telah tampak bahwa ridha Allah akan dapat diraih melalui iman, shalat, zakat dan kewajiban ibadah lainnya.

Jenis ridha kedua, ridha hamba kepada Allah, yakni menerima aturan dan ketetapan Allah Swt dengan senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. "Ridha jenis ini dapat dibuktikan melalui lima cara, yakni ridha atas takdir Allah dengan bersabar; ridha akan nikmat Allah dengan bersyukur; ridha akan masa lalu dengan qonaah; ridha untuk masa depan dengan tawakal; dan ridha terhadap orang lain dengan menjadi pemaaf.

Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa meninggalkan dampak positif dalam hidup kita. Manfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan mendapatkan ampunan-Nya. Semoga kita termasuk dalam kelompok hamba yang berhasil memanfaatkan Ramadan sebagai spirit perjuanga dengan baik dan keluar darinya dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya,juga mudah mudahan kita semua senantiasa mendapat ridho allah dunia serta akhirat. (bembi )